Sabtu, 12 November 2011

PERKEMBANGAN PEMIKIRAN TENTANG MANAJEMEN


PERKEMBANGAN PEMIKIRAN TENTANG
MANAJEMEN
MAKALAH
Diajukan untuk memenuhi tugas kelompok dalam mata kuliah
PENGANTAR ILMU MANAJEMEN
Semester III jurusan BPI_C
Tahun Akademik 2011/2012
Untitled-1 copy
Oleh
Kelompok II
WELISA SEFTA ANDANI                        : 210.163
ANGGI OKRIES                              : 210.154
MAISYARAH A.                              : 210.169

Dosen pembimbing
Drs. Alfian,MM
JURUSAN BIMBINGAN PENYULUHAN ISLAM (BPI)-C
FAKULTAS DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
IMAM BONJOL PADANG
                                                                1432 H / 2011 M

BAB
PEMBAHASAN
            Perkembangan Pemikiran Manajemen, sama halnya dengan organisasi, konsep manajemen juga memiliki perkembangan yang sama. Bahkan, perkembangan pemikiran manajemen ini relatif “berhimpitan” dengan perkembangan pemikiran organisasi. Tokoh-tokoh pemikirnya pun relatif banyak yang sama. Ini menambah catatan bahwa kedua bidang, organisasi dan manajemen, memiliki kedekatan yang sangat serius.
            Ellen A. Benowitz, seperti halnya Stephen P. Robbins, melakukan pemetaan atas perkembangan pemikiran manajemen. Benowitz membaginya menjadi 5 kategori perkembangan pemikiran yaitu : (1) Classical School of Management,[1] (2) Behavioral Management Theory,[2] (3) Quantitative School of Management, (4) Contingency School of Management, dan (5) Quality School of Management. Masing-masing tahap perkembangan pemikiran tersebut masih dibagi lagi ke dalam sub-sub pemikiran.
1)    Classical School of Manajemen (Aliran Manajemen Klasik)
            Pemikiran ini berkembang selama Revolusi Industri tatkala masalah-masalah baru sehubungan sistem yang berlaku di pabrik bermunculan. Manajer relatif mengalami ketidakpastian seputar bagaimana cara melatih pekerja, karena banyak di antara mereka merupakan imigran dari negara-negara non berbahasa Inggris. Manajer juga gagap dalam menangani ketidakpuasan para pekerja yang meningkat. Lalu, mereka mulai menguji sejumlah solusi. Hasilnya, teori manajemen klasik terbentuk lewat upaya menemukan “cara terbaik” guna mengerjakan dan memanajemen pekerjaan.
Aliran Manajemen Klasik (Classical School of Management) ini terdiri atas dua cabang, yakni Saintifik Klasik dan Administrasi Klasik.

1. Aliran Saintifik Klasik (Classical Scientific School)
            Aliran ini muncul akibat kebutuhan meningkatkan produktivitas dan efisiensi. Penekanan pada upaya menemukan cara terbaik guna menyelesaikan pekerjaan lewat pengujian bagaimana proses kerja dilakukan dan keahlian yang dibutuhkan oleh para pekerja. Aliran ini banyak berhutang pada sejumlah pemikir dominan seperti Frederick Taylor, Henry Gantt, dan Frank serta Lillian Gilbreth.[3]
            Diantaranya yaitu  Frank dan Lillian Gilbreth. Sepasang suami istri ini merupakan satu tim. Mereka mempelajari gerakan kerja pekerja. Karir awal Frank selaku pemasang bata membuatnya tertarik dan mempelajari metode dan standardisasi kerja. Ia memperhatikan pemasangan bata dan melihat sejumlah pekerja bekerja lambat dan tidak efisien, sementara lainnya produktif. Dari pengamatannya itu, ia menyimpulkan bahwa setiap pemasang bata menggunakan gerakan yang berbeda.
            Dari observasi tersebut, Frank mengisolasi gerakan dasar yang penting untuk melakukan pekerjaan serta membuang gerakan yang tidak perlu. Pekerja yang menggunakan metode baru ternyata mampu meningkatkan output dari 1000 menjadi 2700 per hari. Ini merupakan studi gerakan pertama yang didesain untuk mempertahankan cara terbaik dalam bekerja. Kemudian, Frank dan Lillian Gilbreth mempelajari gerakan kerja menggunakan kamera perekam dan jam. Tatkala suaminya wafat di usia 56, Lillian meneruskan pekerjaan mereka.
            Hal yang dipetik dari studi suami isteri ini adalah gagasan dasar seputar manajemen saintifik, yang terdiri atas :
  1. Membangun metode-metode standar baru dalam melakukan pekerjaan.
  2. Memilih, melatih, dan mengembangkan pekerja ketimbang mengizinkan mereka memilih sendiri tugas dan pekerjaannya.
  3. Membangun semangat kerjasama antara pekerja dan manajemen guna memastikan bahwa pekerjaan harus dilakukan sesuai prosedur.
  4. Pembagian kerja antara pekerja dan manajemen di hampir seluruh lini.
2. Aliran Administrasi Klasik (Classical Administrative School)
            Tatkala Aliran Saintifik Klasik fokus pada produktivitas individual, Aliran Administrasi Klasik berkonsentrasi pada organisasi secara total. Penekanannya pada pembangunan prinsip-prinsip manajerial ketimbang metode kerja. Kontributor pemikiran ini adalah Max Weber, Henri Fayol, Mary Parker Follett, dan Chester Irving Barnard. Teoretisi tersebut mempelajari arus informasi di dalam organisasi dan menekankan pentingnya pemahaman bagaimana organisasi beroperasi.
            Max Weber. Akhir 1800-an, menyatakan ketidaksukaannya bahwa banyak organisasi-organisasi di Eropa yang dimanajemen ala keluarga pribadi dalam mana para pekerja hanya setia kepada supervisor masing-masing ketimbang organisasi. Weber yakin bahwa organisasi seharusnya dimanajemen secara impersonal dan punya struktur formal, dimana aturan-aturan spesifik dipatuhi adalah penting. Weber tidak berpikir bahwa otoritas didasarkan pada personalitas (individu). Baginya, otoritas seharusnya merupakan sesuatu yang berbaur dengan pekerjaan seseorang (bukan pribadi). Otoritas dapat dipindahkan dari orang yang satu ke orang lainnya. Organisasi yang non personal dan berbentuk obyektif ini disebut birokrasi.
            Weber yakin bahwa seluruh birokrasi punya karakteristik berikut :
  1. Hirarki yang Disusun Baik. Seluruh posisi dalam birokrasi dibagi dalam cara yang memungkinkan posisi yang lebih tinggi mengawasi dan mengendalikan posisi yang lebih rendah. Rantai komando tegas ini memungkinkan kontrol atas organisasi secara keseluruhan.
  2. Pembagian Kerja dan Spesialisasi. Seluruh pertanggungjawaban dalam organisasi dirinci sehingga setiap pekerja punya kebebasan melakukan tugas-tugas tertentu.
  3. Aturan dan Perundangan. Prosedur operasi standar mengatur seluruh kegiatan organisasi guna menyediakan kepastian dan koordinasi.
  4. Hubungan Impersonal Manajer dan Pekerja. Manajer harus memelihara hubungan impersonal dengan pekerja sehingga favoritisme dan penilaian subyektif tidak mempengaruhi pembuatan keputusan.
  5. Kompetensi. Kompetensi, buka “siapa yang anda kenal”, harus menjadi dasar seluruh keputusan dalam kontrak kerja, penempatan, dan promosi dalam rangka meningkatkan kemampuan kerja dan merit system selaku karakteristik utama dalam organisasi birokrasi.
  6. Dokumentasi. Birokrasi butuh pemeliharaan dokumen lengkap atas segala aktivitasnya.
            Mary Parker Follett. Ia menekankan pentingnya organisasi menetapkan tujuan bersama bagi para pekerjanya. Ia mulai berpikir sesuai yang lain dibandingkan teoretisi lain di masanya yang lebih suka bicara hirarki organisasi dan menganggap manusia seperti robot. Follett bicara tentang etika, kuasa, dan kepemimpinan. Ia mendorong manajer agar mengizinkan pekerja berpartisipasi dalam proses pembuatan keputusan. Follett menekankan pentingnya manusia ketimbang teknik-teknik pekerjaan. Hasilnya, ia menjadi pionir dan kerap dianggap sepele oleh sarjana manajemen di masanya. Namun, waktu berubah, dan gagasan inovatif dari masa lalu tiba-tiba dimaknai secara baru. Banyak yang para manajer lakukan sekarang didasarkan pada dasar-dasar yang Follett bangun 70 tahun silam.
            Chester Irving Barnard. Merupakan presiden New Jersey Bell Telephone Company. Ia memperkenalkan gagasan “organisasi informal.” Organisasi informal adalah klik (kelompok di dalam organisasi yang eksklusif) yang secara alami terbentuk di dalam organisasi. Ia merasa organisasi informal ini punya peran dalam fungsi komunikasi atas seluruh organisasi. Mereka dapat membantu organisasi mencapai tujuan.
            Secara khusus, Barnard merasa penting bagi manajer membangun rasa tujuan bersama dimana kehendak bekerjasama didorong secara maksimal. Ia dianugerahi selaku pembangun teori manajemen persetujuan, yang menekankan kehendak pekerja untuk menyetujui bahwa manajer punya kewenangan legitimate untuk bertindak. Bagi Barnard, 4 faktor berikut mempengaruhi keinginan pekerja menerima otoritas :
  1. Pekerja harus paham komunikasi.
  2. Pekerja setuju komunikasi konsisten dengan tujuan organisasi.
  3. Pekerja merasa tindakan mereka akan konsisten dengan kebutuhan dan keinginan pekerja lainnya.
  4. Pekerja merasa bahwa mereka secara mental dan fisik mampu melaksanakan perintah.
            Simpati Barnard bagi pemahaman atas kebutuhan pekerja menempatkan dirinya selaku jembatan antara aliran manajemen klasik dengan aliran manajemen perilaku.
2)    Teori Manajemen Perilaku (Behavioral Management Theory)
            Pertanyaan pasca aliran klasik adalah interaksi dan motivasi individu di dalam organisasi. Prinsip-prinsip manajemen selama periode klasik kurang dapat menyesuaikan diri dianeka situasi. Aliran tersebut kurang dapat menjelaskan perilaku para pekerja. Singkatnya, aliran klasik mengabaikan motivasi dan perilaku pekerja. Hasilnya, muncul aliran perilaku (behavioral).[4]
            Teori manajemen behavioral kerap pula disebut gerakan hubungan manusia sebab menekankan dimensi manusia dalam pekerjaan. Teoretisi behavioral yakin bahwa pemahaman yang lebih baik atas perilaku manusia dalam bekerja, seperti motivasi, konflik, harapan, dan dinamika kelompok, akan meningkatkan produktivitas.
            Elton Mayo. Kontribusi Mayo berawal dari Hawthorne Studies. Mayo dan rekannya F. J. Roethlisberger menyimpulkan bahwa peningkatan produksi merupakan hasil dari perancangan pengawasan supervisor ketimbang perubahan pencahayaan ruangan atau keuntungan-keuntungan lain bagi pekerja. Supervisor mampu memberi pemahaman mengenai keinginannya kepada anak buah, dan ini meningkatkan motivasi dan meningkatkan produktivitas. Kesimpulan utama dari Hawthorne Studies adalah, hubungan antarmanusia dan kebutuhan sosial pekerja adalah aspek kunci bagi manajemen bisnis. Prinsip motivasi manusia ini mendorong teori dan praktek manajemen yang revolusioner.
            Abraham Maslow. Seorang psikolog, membangun apa yang kemudian dikenal sebagai Teori Kebutuhan, teori motivasi yang didasarkan pada kebutuhan manusia. Teori Maslow punya 3 asumsi :
  1. Kebutuhan manusia tidak akan pernah terpuaskan.
  2. Perilaku manusia punya tujuan dan dimotivasi oleh kebutuhan untuk mengalami kepuasan.
  3. Kebutuhan dapat diklasifikasi menurut struktur hirarki dari yang terpenting, dari bawah ke atas.
            Hirarki kebutuhan Maslow sebagai berikut :
  1. Kebutuhan Fisiologis. Maslow mengelompokkan seluruh kebutuhan fisik yang diperlukan untuk bertahan hidup manusia, seperti makanan, minuman, ke dalam kategori ini. Setelah kebutuhan fisiologis tercapai, ia bukan lagi berupa motivator.
  2. Kebutuhan Keamanan. Kebutuhan ini mencakup keamanan dasar, stabilitas, perlindungan, dan kebabasan dari rasa takut. Ia merupakan kondisi yang normal bagi setiap individu untuk memuaskan kebutuhan ini. Jika belum terpenuhi, maka ia menjadi motivator.
  3. Kebutuhan Pemilikan dan Kasih Sayang. Setelah kebutuhan fisik dan keamanan terpuaskan, mereka bukan lagi motivator. Lanjutannya, muncul kebutuhan kepemilikan dan kasih sayang selaku motivator utama. Individu mencari hubungan bermakna dengan orang lain didalam organisasi.
  4. Kebutuhan Kebanggaan Diri. Individu harus membangun rasa percaya diri dan ingin meraih status, reputasi, dan kemegahan.
  5. Kebutuhan Aktualisasi Diri. Ini adalah kebutuhan manusia untuk menemukan jati dirinya.
3)    Aliran Manajemen Kuantitatif (Quantitative School of Management)
            Selama Perang Dunia II, matematikawan, fisikawan, dan ilmuwan pasti lain ikut bergabung mengabdi kepada masalah kemiliteran. Aliran manajemen kuantitatif adalah hasil dari riset yang diadakan selama Perang Dunia II. Pendekatan kuantitatif atas manajemen melibatkan penggunaan teknik-teknik kuantitatif seperti statistik, model informasi, dan simulasi komputer untuk membaguskan proses pembuatan keputusan. Aliran ini punya beberapa cabang.
            Manajemen Sains. Aliran manajemen sains muncul menyikapi masalah yang berhubungan dengan perang global. Kini, pandangan ini mendorong manajer menggunakan matematika, statistik, dan teknik kuantitatif lainnya untuk membuat keputusan. Manajer dapat menggunakan model komputer untuk menggambarkan cara terbaik, misalnya menghemat uang dan waktu. Manajer menggunakan sejumlah aplikasi sains berikut :
  1. Matematika terapan membantu membuat proyeksi hal-hal penting dalam proses perencanaan.
  2. Model inventory mengendalikan inventaris dan pengorderan barang secara matematis.
            Manajemen Operasi. Manajemen operasi adalah cabang kecil dari pendekatan kuantitatif dalam manajemen. Fokusnya pada pemanajemenan proses pengubahan material, tenaga kerja, dan modal kepada layanan dan barang yang bermanfaat. Output produk dapat berupa barang dan jasa. Manajemen operasi yang efektif konsentrasi pada, baik organisasi manufaktur ataupun jasa. Sumber daya input atau faktor produksi, termasuk ragam bahan mentah, teknologi, modal informasi, dan orang yang dibutuhkan guna menciptakan produk akhir.
            Manajemen operasi saat ini memberi perhatian khusus pada tuntutan kualitas, layanan pelanggan, dan persaingan. Proses diawali dengan perhatian pada kebutuhan konsumen: Apa yang mereka inginkan? Dimana mereka menginginkannya? Kapan mereka menginginkannya? Berdasar jawaban atas pertanyaan tersebut, manajer mengerahkan sumber daya dan mengambil tindakan guna memenuhi harapan pelanggan.
            Sistem Informasi Manajemen. Sistem Informasi Manajemen adalah salah satu bidang aliran kuantitatif. SIM mengorganisir masa lalu, masa kini, dan proyeksi data baik dari sumber internal maupun eksternal menjadi informasi yang bermanfaat. Informasi tersebut tersedia bagi para manajer di aneka level. SIM juga memungkinkan pengorganisasian data kedalam format yang bermanfaat dan mudah diakses. Hasilnya, manajer dapat mengenali pilihan-pilihan secara cepat, mengevaluasi alternatif menggunakan program pengolah angka, simulasi jika-begini-maka, dan akhirnya, memilih alternatif terbaik berdasar jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini.
4)    Aliran Manajemen Kontijensi (Contingency School of Management)
            Aliran manajemen kontijensi dapat dirangkum sebagai pendekatan “semua tergantung pada”. Tidakan manajemen yang diharapkan dan pendekatan yang digunakan bergantung pada situasi. Sebab itu, aliran kontijensi juga disebut aliran situasional. Aliran ini muncul sebagai hasil riset tahun 1960-an dan 1970-an dan sekaligus selaku penolakan atas aliran saintifik. Fokus riset-riset tersebut pada faktor-faktor situasional yang mempengaruhi struktur organisasi dan gaya kepemimpinan di aneka situasi berbeda.
            Bagi aliran kontijensi, perubahan lingkungan, ketidakmenentuan, teknologi kerja, dan ukuran perusahaan merupakan faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi efektivitas di aneka bentuk organisasi. Menurut aliran ini, kondisi aliran saintifik seperti lingkungan yang stabil, sentralisasi, standarisasi, dan spesialisasi guna mencapai efisiensi dan konsistensi, telah berubah. Dalam aliran saintifik yang stabil tersebut, kepastian, prediktabilitas, memungkinkan diterapkannya kebijakan, aturan, dan prosedur-prosedur tetap. Namun, kondisi tersebut berubah di aliran kontijensi.
            Aliran kontijensi yang berkembang di lingkungan tak stabil menghendaki desentralisasi guna mencapai fleksibilitas dan adaptabilitas. Ketidakmenentuan dan ketidakterukuran membutuhkan metode penyelesaian masalah yang sifatnya non rutin, atau situasional.
            Aliran kontijensi ditunjukkan oleh Paul Lawrence dan Jay Lorsch dalam karyanya Organizations and Environment : Managing Differentiation and Integration yang terbit tahun 1967. Dalam karya tersebut, Lawrence and Lorsch berpendapat bahwa unit-unit organisasi yang bergerak dalam lingkungan berbeda mengembangkan karakteristik unit yang juga berbeda. Semakin besar perbedaan internal di antara mereka, semakin besar pula kebutuhan koordinasi antar unit tersebut. 
5)    Aliran Manajemen Kualitas (Quality School of Management)
            Aliran Manajemen Kualitas adalah konsep menyeluruh seputar leading dan operating suatu organisasi. Ia dimaksudkan guna meningkatkan performa kerja organisasi secara terus-menerus dengan fokus pada customer seraya sensitif terhadap kepentingan para stake holder. Dengan kata lain, konsep Manajemen Kualitas fokus pada pemanajemenan organisasi secara total guna menghadirkan pelayanan terbaik pada pelanggan.
            Manajemen Kualitas berbeda dengan aliran-aliran sebelumnya dalam hal sikap manajemen terhadap produk dan terhadap pekerja. Aliran sebelumnya fokus pada volume produksi dan biaya produksi. Kualitas dikendalikan menggunakan metode pindai (pemeriksaan hasil produksi), masalah diselesaikan pihak manajemen, dan peran manajemen didefinisikan planning, menentukan pekerjaan, dan mengendalikan produksi. Manajemen Kualitas berbeda. Ia fokus pada pelanggan dan pemenuhan kebutuhan pelanggan.
            Kualitas manajemen dikendalikan lewat pencegahan, misalnya kualitas dipastikan di tiap-tiap tahapan kerja manajemen. Penyelesaikan masalah lewat tim dan setiap orang bertanggung jawab atas kualitas produk. Peran manajemen adalah mendelegasikan, melatih, memfasilitasi, dan membimbing. Prinsip utama Manajemen Kualitas adalah : kualitas, kerja tim, dan manajemen yang pro aktif demi proses peningkatan kinerja.
            W. Edward Deming. Tokoh Manajemen Kualitas ini menerbitkan pemikiran dalam karyanya Out of the Crisis yang terbit tahun 1986. Ia seorang Amerika Serikat yang bekerja sama dengan Walter A. Shewhard di Bell Telephone Company. Rekannya itu, Shewhart, seorang ahli statistik yang punya pendapat kontrol produksi dapat lebih baik dimanajemen dengan statistik. Shewhart lalu menyusun bagan statistik untuk mengendalikan variabel-variabel produk.
            Berdasarkan karya Shewhart itulah Deming lalu mengembangkan proses kerja menggunakan teknik-teknik statistik yang mampu memberi peringatan kapan seorang manajer harus mengintervensi suatu proses produksi. Deming lalu dikirim ke Jepang untuk memulihkan pabrik-pabrik manufaktur Jepang yang hancur karena perang. Deming memperkenalkan metode “statistical process control” tersebut kepada para kalangan bisnis dan insinyur Jepang. Konsep Deming kemudian meluas dan menjadi pemastian kualitas di seluruh proses produksi.
            Deming lebih lanjut membangun konsep reaksi berantai. Tatkala kualitas meningkat, biaya turun, dan produktivitas meningkat. Kondisi ini membawa pada perluasan lapangan kerja, perluasan pasar, dan kebertahanan hidup yang lebih lama bagi perusahaan. Ia menekankan pentingnya kebanggaan dan kepuasan pekerja seraya menekankan bahwa tanggung jawab manajer-lah untuk meningkatkan proses pekerjaan, bukan pekerja. Deming juga memperkenalkan Lingkaran Kualitas, yang didasarkan pada kepentingan pertemuan rutin dan periodik dari para pekerja yang digabung ke dalam kelompok-kelompok guna membahas kualitas produk secara menyeluruh.
            Poin-poin Manajemen Kualitas yang Deming tawarkan diringkas sebagai berikut :
  1. Susun rencana; publikasikan maksud dan tujuan organisasi.
  2. Pelajari dan adopsi filosofi kualitas yang baru.
  3. Pahami tujuan dari inspeksi; hentikan kebergantungan pada inspeksi.
  4. Hentikan pandangan tinggi atas bisnis semata-mata pada harga.
  5. Tingkatkan kinerja sistem secara terus-menerus.
  6. Lembagakan pelatihan.
  7. Latih dan lembagakan kepemimpinan.
  8. Buang rasa takut, ciptakan kepercayaan, dan bentuk iklim inovasi.
  9. Tingkatkan upaya tim, kelompok, dan staf.
  10. Hentikan pemaksaan dan pentargetan pada para pekerja; ciptakan metode prestasi.
  11. Hentikan kuota angka bagi para pekerja.
  12. Buang hambatan yang merampok kebanggaan diri pekerja atas pekerjaannya.
  13. Dorong pendidikan dan peningkatan diri untuk setiap orang.
  14. Bertindak secara transformatif, buat itu sebagai pekerjaan setiap orang.
             Perkembangan Manajemen Kualitas dapat dirangkum sebagai berikut :
  1. Quality Control (kendali kualitas) muncul pertama kali dengan fokus perancangan spesifikasi produk dan pengecekan produk sebelum meninggalkan pabrik.
  2. Quality Assurance muncul kemudian, fokus pada identifikasi ciri dan prosedur yang bisa dievaluasi dan dikendalikan secara kuantitatif.
  3. Total Quality Control (TQC) muncul berikutnya diperkenalkan Feingenbaum tahun 1983 fokus pada Quality Control menjadi tanggung jawab seluruh elemen organisasi. Ia berefek pada produksi, profit, interaksi manusia, dan kepuasan pelanggan.
            Total Quality Management (TQM) fokus pada pelanggan selaku pusat perhatian dan kualitas merupakan tanggung jawab organisasi secara keseluruhan.

 
BAB
PENUTUP
A.   KESIMPULAN
Perkembangan Pemikiran Manajemen, sama halnya dengan organisasi, konsep manajemen juga memiliki perkembangan yang sama. Bahkan, perkembangan pemikiran manajemen ini relatif “berhimpitan” dengan perkembangan pemikiran organisasi. Tokoh-tokoh pemikirnya pun relatif banyak yang sama. Ini menambah catatan bahwa kedua bidang, organisasi dan manajemen, memiliki kedekatan yang sangat serius.
Ellen A. Benowitz, seperti halnya Stephen P. Robbins, melakukan pemetaan atas perkembangan pemikiran manajemen. Benowitz membaginya menjadi 5 kategori perkembangan pemikiran yaitu :
1.     Classical School of Management,
                Pemikiran ini berkembang selama Revolusi Industri tatkala masalah-masalah baru sehubungan sistem yang berlaku di pabrik bermunculan. Manajer relatif mengalami kesulitan, sehingga mereka mulai menguji sejumlah solusi. Dan hasilnya, teori manajemen klasik terbentuk lewat upaya menemukan “cara terbaik” guna mengerjakan dan memanajemen pekerjaan.
                Aliran Manajemen Klasik (Classical School of Management) terdiri atas dua cabang: Saintifik Klasik dan Administrasi Klasik.
2.     Behavioral Management Theory,
             Teori manajemen behavioral kerap pula disebut gerakan hubungan manusia sebab menekankan dimensi manusia dalam pekerjaan. Teoretisi behavioral yakin bahwa pemahaman yang lebih baik atas perilaku manusia dalam bekerja, seperti motivasi, konflik, harapan, dan dinamika kelompok, akan meningkatkan produktivitas.
3.     Quantitative School of Management,
                Aliran manajemen kuantitatif adalah hasil dari riset yang diadakan selama Perang Dunia II. Pendekatan kuantitatif atas manajemen melibatkan penggunaan teknik-teknik kuantitatif seperti statistik, model informasi, dan simulasi komputer untuk membaguskan proses pembuatan keputusan.
                Aliran ini mempunyai beberapa cabang, yaitu Manajemen Sains, Manajemen Operasi, dan Sistem Informasi Manajemen.
4.     Contingency School of Management,
                Aliran manajemen kontijensi dapat dirangkum sebagai pendekatan “semua tergantung pada”. Tidakan manajemen yang diharapkan dan pendekatan yang digunakan bergantung pada situasi. Sebab itu, aliran kontijensi juga disebut aliran situasional. Aliran ini muncul sebagai hasil riset tahun 1960-an dan 1970-an dan sekaligus selaku penolakan atas aliran saintifik. Fokus riset-riset tersebut pada faktor-faktor situasional yang mempengaruhi struktur organisasi dan gaya kepemimpinan di aneka situasi berbeda.
5.     Quality School of Management.
                Aliran Manajemen Kualitas adalah konsep menyeluruh seputar leading dan operating suatu organisasi. Ia dimaksudkan guna meningkatkan performa kerja organisasi secara terus-menerus dengan fokus pada customer seraya sensitif terhadap kepentingan para stake holder. Dengan kata lain, konsep Manajemen Kualitas fokus pada pemanajemenan organisasi secara total guna menghadirkan pelayanan terbaik pada pelanggan.

B.   KRITIK & SARAN
Penulis menyadari karena keterbatasan pengetahuan, sumber bacaan, serta rujukan, sehingga berdampak  pada kesempurnaan penyusunan makalah ini. Kalau ditinjau lebih dalam lagi, isi makalah ini tergolong sangat kurang. Justru itu, untuk kesempurnanan penyusunan makalah selanjutnya, penulis sangat berharap kritikan serta saran yang membangun agar dapat menutupi kekurangan dan keterbatasan penyajian. 







DAFTAR KEPUSTAKAAN
  • Ernie Tisnawati Sule & Kurniawan Saefullah, Pengantar Manajemen, 2005, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, h.29-43
  • Ellen A. Benowitz, Principles of Management (New York : Hungry Minds, 2001).
  • Marilyn M. Helms, Encyclopedia of Management, 5th Edition (Farmington Hills : Thomson Gale, 2006)
  • Dr.H. B. Siswanto, M.Si, Pengantar Manajemen, 2005, PT Bumi Aksara, Jakarta, h. 31-39
  • http://google.co.id/perkembangan-pemikiran-manajemen@#
  • Wikipedia.org/perkembangan-pemikiran-tentang-manajemen




[1] Ernie Tisnawati Sule & Kurniawan Saefullah, Pengantar Manajemen, (Jakarta  : Kencana Prenada Media Group, 2005) hal. 29
[2] Ibid., hal. 33
[3] Dr. H. B. Siswanto, M.Si, Pengantar Manajemen, (Jakarta : Bumi Aksara, 2005), hal. 31
[4] Ibid.,hal. 37

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar